Selasa, 02 Juli 2013

PEMIMPIN KELUARGA



Keluarga adalah merupakan kelompok kehidupan sosial yang terkecil di masyarakat.  Sebuah kelompok yang tentunya terdiri lebih dari satu orang maka agar kelompok itu bisa berjalan dengan koordinatif, searah maka harus ada seseorang yang berfungsi sebagai pemimpin.  Dan Allah sudah menempatkan laki-laki (suami) sebagi pemimpin dalam keluarga.
Ø  “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka… (An Nisa;34)

Keberhasilan sebuah kelompok sangat tergantung kepada pemimpinnya, begitu juga keluarga.  Ibarat kendaraan- kemana arah kendaraan, seberapa cepat laju kendaraan dan selamat tidaknya sampai tujuan-sangat tergantung kepada sopir.  Jadi, terwujudnya keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah tergantung pada bagaimana suami bisa menjalankan perannya sebagai pemimpin.

Sebagai pemimpin keluarga, suami berkewajiban memberikan nafkah kepada keluarga. Sekalipun istri berkecukupan, tidak menghilangkan kewajiban suami untuk memberi nafkah.
Ø  Jabir bin Abdullah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda;”..Dan kamu wajib memberi nafkah kepada mereka dan memberi pakaian secara makruf (patut)” (HR Muslim).
Memberikan nafkah bukan hanya sebatas kebutuhan istri dan anak-anaknya, namun bila mampu hendaknya suami melapangkannya, sebagai  bentuk pemberian secara makruf.
Ø  Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda,”Sebaik-baik sedekah ialah yang selebihnya dari kebutuhan dan mulailah dengan orang yang engkau tanggung” (HR Bukhari)

Sebagai pemimpin, bukan  berarti  suami bisa sewenang-wenang memerintah istri.
Ø  “Tidak boleh melakukan ketaatan (kepada seorangpun) untuk bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam hal yang makruf (baik)”(HR Muslim)

Dalam memutuskan segala permasalahan di keluargapun, suami perlu untuk  membicarakan dengan istri.  Dan salah satu hikmah  pernikahan adalah Allah mengumpulkan dua orang yang berbeda sifat, karakter dan potensi dirinya agar saling melengkapi.  Sesuatu yang luput dari pertimbangan suami, bisa jadi terpikirkan oleh istri.
Ø  “Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka” (Asy Syuura: 38)

Setelah memberi nafkah bukan berarti suami berlepas tangan terhadap pekerjaan rumah tangga, bahkan jika mampu hendaklah suami menyediakan pelayan untuk istrinya.
Ø  Al  Aswad bertanya kepada aisyah, :Apakah yang dikerjakan Rasulullah saw di rumah?” Dia menjawab “Beliau biasa di dalam tugas sehari-hari di keluarga “yakni melayani keluarganya”. Maka apabila telah tiba waktu sholat, beliau keluar untuk menunaikan shalat” (HR Bukhari)
Ø  Di dalam riwayat  Ahmad, bahwa Aisyah ditanya, “Apakah yang dikerjakan Rasulullah saw di rumahnya?” Dia menjawab “Beliau adalah seorang manusia biasa, membersihkan pakaiannya, memerah susu kambingnya, dan melayani dirinya”

Suami sebagai pemimpin berkewajiban untuk mengarahkan/mendidik istrinya dan juga membantu istrinya dalam mendidik anak-anak mereka dengan baik dan sabar.  
Ø  Rasulullah saw bersabda, “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada seorang lelaki yang bangun tengah malam lalu melaksanakan shalat.  Lalu membangunkan istrinya untuk melaksanakan shalat...” (HR Ahmad)


Suami juga hendaknya memperlakukan istrinya dengan baik, lembut , dan menjaga penampilannya di hadapan istrinya.,
Ø  Abdullah bin Amr bin Al Ash bahwa Nabi saw bersabda, “Sebaik-baik kamu ialah orang yang paling baik terhadap istrinya” (HR Ibnu Majah)
Ø  Ibnu Abbas berkata,’Aku suka berhias untuk istriku sebagaimana aku suka dia berhias untukku..”

Setiap orang selalu mempunyai  kekurangan begitu juga istri.  Suami hendaknya bersikap lapang dan memaafkan kekurangan istri serta mengarahkannya dengan hati-hati.
Ø  “Janganlah seorang suami mukmin membenci seorang istri mukminah.  Jika ia tidak menyukai suatu peringai padanya, maka ia menyukainya perangai-perangainya  yang lain” (HR Muslim)
Ø  Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda “Berpesanlah (dengan baik) kepada wanita karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk ,,,” (HR Bukhari dan Muslim)


Wallahu’alam bi showab..smoga bermanfaat


Sumber ; Buku Kebebasan Wanita , Abdul Halim Abu Syuqqah



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar